Tugas Ekonomi
Sumber Daya Hutan
Medan, April
2019
Manfaat Ekonomi Hasil Hutan Bukan kayu Tumbuhan Paku (Pteridophyta sp.)
Dosen Penanggungjawab:
Dr. Agus Purwoko., S.Hut, M.Si
Disusun Oleh :
Raimondo
Limbong
171201092
171201092
Hut 4 B
PROGRAM
STUDI KEHUTANAN
FAKULTAS
KEHUTANAN
UNIVERSITAS
SUMATERA UTARA
MEDAN
2019

Tumbuhan paku adalah sekelompok tumbuhan yang memiliki
sistem pembuluh sejati (Tracheophyta), meskipun tumbuhan ini tidak pernah
menghasilkan biji untuk berkembang biak. Tumbuhan paku
disebut juga sebagai paku-pakuan atau pakis-pakisan. Dalam bahasa Inggris
tumbuhan ini dikenal sebagai ‘fern’. Karena reproduksi seksualnya tidak
menggunakan biji, kelompok tumbuhan paku menggunakan
spora untuk berkembang biak. Cara perkembangbiakannya ini lebih menyerupai
kelompok organisme lumut dan fungi. Tumbuhan paku dapat ditemukan tumbuh hampir
di seluruh dunia, kecuali di daerah bersalju abadi dan lautan. Tumbuhan paku
juga banyak hidup di Indonesia, apalagi sebagian besar anggota
paku-pakuan tumbuh di daerah tropika basah. Di seluruh dunia dikenal hingga 12.000
spesies tumbuhan paku dan sekitar seperempatnya dapat dijumpai di kawasan
Malesia yang mencakup Indonesia. Sebelum kita mengetahui manfaat ekonomi dari
tumbuhan paku, sebaiknya kita mengenal terlebih dahulu apa itu tumbuhan paku
serta ciri-ciri dari tumbuhan paku.
Ciri dan Botani
Bentuk luar (morfologi) tumbuhan
paku bermacam-macam, sesuai dengan hasil evolusi adaptasinya. Secara umum,
pakis dikenal karena daunnya tumbuh dari tunas secara "gulungan
membuka" (bahasa Jawa: mlungker) atau circinate
vernation dalam bahasa Inggris. Namun demikian, ciri ini sebenarnya
hanya berlaku untuk paku leptosporangiatae dan anggota Marattiales. Penampilan
luar paku ada yang berupa pohon (paku pohon, biasanya tidak
bercabang), semak, epifit, tumbuhan merambat, ada juga yang dapat
mengapung di air, hidrofit, tetapi biasanya berupa terna atau dengan rimpang yang
menjalar di tanah atau humus yang merupakan tempat dominan
tumbuhan paku tumbuh. Organ fotosintetik dan reproduktif paku
disebut ental (bahasa Inggris frond) dengan ukuran yang
bervariasi, dari beberapa milimeter sampai enam meter. Ental paku
sejati yang masih muda selalu menggulung seperti
gagang biola dan menjadi satu ciri khas. Sebagian besar anggota
paku-pakuan tumbuh di daerah tropika basah. Paku-pakuan cenderung ditemukan
pada kondisi tumbuh marginal, seperti lantai hutan yang lembab,
tebing perbukitan, menempel atau merayap pada batang pohon atau
bebatuan, di dalam airkolam/danau, daerah sekitar kawah vulkanik,
serta sela-sela bangunan yang tidak terawat. Ketersediaan air yang mencukupi
pada rentang waktu tertentu diperlukan karena salah satu tahap hidupnya
tergantung pada keberadaan air, yaitu sebagai media bergeraknya sel
sperma menuju sel telur. Karena itulah, tumbuhan ini juga lebih
banyak dijumpai di kawasan pegunungan yang basah dan teduh.
Metagenesis
Daur hidup tumbuhan paku mengenal pergiliran keturunan (metagenesis), yang terdiri dari dua tahap yaitu gametofit dan sporofit. Tumbuhan paku yang mudah atau yang sering kita lihat
merupakan bentuk fase sporofit (sporophyte, berarti "tumbuhan dengan
spora") karena menghasilkan spora. Bentuk generasi gametofit (gametophyte,
berarti "tumbuhan dengan gamet") dinamakan protalus (prothallus)
atau protalium (prothallium), yang
berwujud tumbuhan kecil berupa lembaran berwarna hijau, mirip lumut hati, tidak berakar (tetapi memiliki akar semu (rizoid) sebagai penggantinya), tidak berbatang, tidak berdaun.
Prothallium tumbuh dari spora yang jatuh di tempat yang lembab. Protalium
menghasilkan anteridium (antheridium,
penghasil spermatozoid atau sel kelamin jantan)
dan arkegonium (archegonium, organ
penghasil ovumatau sel telur).
Baik anteridium maupun arkegonium
berukuran mikroskopik, tidak mudah dilihat mata tanpa
bantuan alat khusus. Pembuahan sel telur mutlak memerlukan bantuan air sebagai media
spermatozoid berpindah dengan berenang menuju arkegonium untuk membuahi sel
telur. Ovum yang terbuahi berkembang menjadi zigot, yang pada gilirannya tumbuh
menjadi sporofit baru. Daur hidup (disederhanakan) tumbuhan paku. Beberapa
tumbuhan paku (seperti anggota Selaginellales dan Salviniales) memiliki spora
jantan berukuran lebih kecil, disebut mikrospora, daripada spora betina,
disebut megaspora atau makrospora. Gejala ini disebut heterospori (tumbuhannya
disebut heterospor). Kelompok dengan ukuran spora sama besar disebut homospor. Tumbuhan berbiji (Spermatophyta) juga memiliki daur hidup seperti paku
heterospor tetapi telah berevolusi lebih jauh sehingga tahap gametofitnya tidak
dapat hidup mandiri dan harus disangga kehidupannya oleh sporofit. Spora yang
dihasilkan langsung tumbuh menjadi serbuk sari (jantan) atau kantung embrio (betina).
Cakupan Anggota dan Klasifikasi
Secara tradisional, sebagaimana diajarkan di sekolah
menengah, tumbuhan
paku (Pteridophyta, arti luas) mencakup semua tumbuhan
berpembuluh (Tracheophyta) berspora, atau kormofita berspora selain lumut hati (Hepatophyta), lumut tanduk (Anthocerophyta), dan tumbuhan lumut sejati (Musci). Pteridophyta ditempatkan pada takson
divisio dengan lima kelas:
·
Filicinae / Filices (paku sejati/benar,
mencakup Eusporangiatae (ordo Ophioglossales dan
Marattiales) dan Leptosporangiatae).
Sampai sekarang, ilmu yang mempelajari kelompok-kelompok
dari tumbuhan paku ini disebut pteridologi dan ahlinya
disebut pteridolog. Perubahan mendasar dipublikasikan oleh Smith
(2006), dengan mengajukan revisi terhadap tumbuhan paku masa kini (tidak
mencakup tumbuhan paku fosil yang sudah punah) berdasarkan data morfologi dan didukung dengan hasil
analisis molekular (sekuens DNA plastid). Berdasarkan usulan ini, Lycopodiinae dan Isoëtinae
dianggap merupakan tumbuhan berpembuluh yang pertama kali terpisah dari yang
lain, sehingga dikelompokkan dalam divisio tersendiri: Lycopodiophyta (atau Lycophyta). Paku-pakuan serta tumbuhan berbiji
berada pada kelompok lain, disebut Euphyllophytina (atau Pterophyta). Selanjutnya semua kormofita
berspora yang tersisa tergabung dalam satu kelompok besar, yang layak dikatakan
sebagai anggota divisio tumbuhan paku (Pteridophyta) yang sebenarnya. Nama baru
yang diusulkan untuk mencegah kerancuan cakupan Pteridophyta adalah
"Monilophyta" (dari moniliform, "berbentuk
kalung", mengacu pada bentuk stele seperti kalung yang dimiliki
tumbuhan yang dianggap moyang semua tumbuhan paku modern) atau
""Polypodiophyta" (dari Polypodium, genus yang menjadi genus tipe).
Revisi Smith dkk (2006) ini juga
menunjukkan bahwa sejumlah paku-pakuan yang dulu dianggap sebagai paku
primitif, seperti anggota Psilotales, ternyata lebih dekat berkerabat dengan
Ophioglossales (yang sebelumnya merupakan anggota kelas Filicinae yang dianggap
lebih "modern"), sementara paku ekor kuda (Equisetales) sama dekatnya dengan paku sejati maupun
terhadap Marattiales.
Semenjak klasifikasi baru ini diterbitkan, ditambah dengan
beberapa perbaikan lanjutan, kesepakatan klasifikasi tumbuhan paku sampai 2013,
adalah sebagai berikut (hingga takson bangsa/ordo)
Manfaat Ekonomi
Tumbuhan paku memiliki banyak manfaat bagi manusia,
diantaranya sebagai manfaat ekonomis. Manfaat ekonomi dari tumbuhan paku
adalah:
1.
Sebagai
Tanaman Hias
Manfaat ekonomi yang pertama ialah sebagai tanaman hias.
Tumbuhan paku memiliki banyak jenis anggotanya menjadi tanaman hias, baik itu taman,
pekarangan, atau ditaruh di pot sebagai tanaman beranda atau dalam rumah (indoor
plant). Contoh-contohnya adalah berbagai paku pedang (Nephrolepis), berbagai paku epifit (misalnya paku tanduk rusa, kadaka, Davallia, Drynaria,
sering kali tumbuh secara spontan lalu dipelihara), suplir (Adiantum), berbagai paku pohon, dan beberapa paku air untuk penghias akuarium
(mis. Ceratopteris thalictroides).
2.
Sebagai
Sayuran
Manfaat sebagai sayuran merupakan manfaat paling sering
diketahui atau paling sering dijumpai terutama di kehidupan kampong. Tanaman
paku atau sayur paku sering dijual mentah atau bahkan sebagai menu sayur di
rumah makan atau restoran. Namun, bukan seluruh bagian paku yang digunakan sebagai sayur hanya bagian
dari ental muda saja. jenis paku yang dapat digunakan sebagai sayur adalah Diplazium esculentum.
3.
Sebagai
Pupuk pertanian
Dalam bidang pertanian tumbuhan paku memiliki manfaat
sebagai pupuk, melalui cara bersimbiosis dengan bakteri pengikat nitrogen bebas
dari udara. Sehingga mengandung nitrogen yang tinggi dan dapat digunakan oleh
petani untuk menghemat dari biaya atau modal pembelian pupuk. Jenis paku yang
digunakan sebagai pupuk adalah Anabaena
azollae.
4.
Sebagai
penimbun logam berat dan berperan penting pada fitoremediasi
Fitoremediasi terdiri dari konsentrasi polutan dalam tanah
terkontaminasi mitigasi, air, atau udara, dengan tanaman mampu menurunkan atau
menghilangkan logam, pestisida, pelarut, bahan peledak, minyak mentah dan
turunannya, dan kontaminan lainnya dari berbagai media yang mengandung mereka.
Jenis paku yang berperan dibidang ini adalah Pteris vittata dan Azzola spp.
5.
Manfaat
sebagai alternatif obat
Pakis
juga memiliki manfaat kesehatan lainnya adalah untuk mengobati parasit internal
seperti cacing. Selain itu juga digunakan sebagai pencahar untuk menyembuhkan
gangguan pencernaan dan sembelit. Studi menunjukkan bahwa pakis bertindak
sebagai alat kontrasepsi dan memiliki efek antihiperglikemia. Ini berarti bahwa
hal ini membantu untuk menurunkan kadar gula darah, yang berguna bagi penderita
diabetes.
6.
Sebagai
bahan pembuatan petasan
Manfaat ekonomi ini merupakan agak di luar dugaan, yaitu
sebagai bahan dasar pembuatan petasan. Seperti yang kita ketahui, petasan
memiliki nilai jual ekonomi yang cukup tenar dan laris di Indonesia, adapun jenis tumbuhan paku yang dapat
digunakan sebagai bahan pembuatan petasan adalah Lycopodium sp.
7.
Sebagai
bahan tambang
Ini merupakan manfaat paling jarang didengar oleh
masyarakat. Ternyata tanaman paku yang sudah tekubur lama semua itu akan
berubah menjadi bahan tambang seperti
misalnya batubara, yang merupakan nilai tambang yang memiliki nilai ekonomi
yang tinggi
