Minggu, 07 April 2019

Manfaat Ekonomi Hasil Hutan Bukan Kayu Tumbuhan Paku (Pteridophyta sp.)


Tugas Ekonomi Sumber Daya Hutan                                                                        Medan,     April 2019
Manfaat Ekonomi Hasil Hutan Bukan kayu Tumbuhan Paku (Pteridophyta sp.)


Dosen Penanggungjawab:
Dr. Agus Purwoko., S.Hut, M.Si



Disusun Oleh :
      Raimondo Limbong
  171201092

Hut 4 B
                                                                                     




Image result for logo kehutanan usu 

PROGRAM STUDI KEHUTANAN
FAKULTAS KEHUTANAN
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
2019





Image result for gambar trumbuhan paku



Tumbuhan paku adalah sekelompok tumbuhan yang memiliki sistem pembuluh sejati (Tracheophyta), meskipun tumbuhan ini tidak pernah menghasilkan biji untuk berkembang biak. Tumbuhan paku disebut juga sebagai paku-pakuan atau pakis-pakisan. Dalam bahasa Inggris tumbuhan ini dikenal sebagai ‘fern’. Karena reproduksi seksualnya tidak menggunakan biji, kelompok tumbuhan paku menggunakan spora untuk berkembang biak. Cara perkembangbiakannya ini lebih menyerupai kelompok organisme lumut dan fungi. Tumbuhan paku dapat ditemukan tumbuh hampir di seluruh dunia, kecuali di daerah bersalju abadi dan lautan. Tumbuhan paku juga  banyak hidup di Indonesia, apalagi sebagian besar anggota paku-pakuan tumbuh di daerah tropika basah. Di seluruh dunia dikenal hingga 12.000 spesies tumbuhan paku dan sekitar seperempatnya dapat dijumpai di kawasan Malesia yang mencakup Indonesia. Sebelum kita mengetahui manfaat ekonomi dari tumbuhan paku, sebaiknya kita mengenal terlebih dahulu apa itu tumbuhan paku serta ciri-ciri dari tumbuhan paku.


Ciri dan Botani
    Bentuk luar (morfologi) tumbuhan paku bermacam-macam, sesuai dengan hasil evolusi adaptasinya. Secara umum, pakis dikenal karena daunnya tumbuh dari tunas secara "gulungan membuka" (bahasa Jawa: mlungker) atau circinate vernation dalam bahasa Inggris. Namun demikian, ciri ini sebenarnya hanya berlaku untuk paku leptosporangiatae dan anggota Marattiales. Penampilan luar paku ada yang berupa pohon (paku pohon, biasanya tidak bercabang), semak, epifit, tumbuhan merambat, ada juga yang dapat mengapung di air, hidrofit, tetapi biasanya berupa terna atau dengan rimpang yang menjalar di tanah atau humus yang merupakan tempat dominan tumbuhan paku tumbuh. Organ fotosintetik dan reproduktif paku disebut ental (bahasa Inggris frond) dengan ukuran yang bervariasi, dari beberapa milimeter sampai enam meter. Ental paku sejati yang masih muda selalu menggulung seperti gagang biola dan menjadi satu ciri khas. Sebagian besar anggota paku-pakuan tumbuh di daerah tropika basah. Paku-pakuan cenderung ditemukan pada kondisi tumbuh marginal, seperti lantai hutan yang lembab, tebing perbukitan, menempel atau merayap pada batang pohon atau bebatuan, di dalam airkolam/danau, daerah sekitar kawah vulkanik, serta sela-sela bangunan yang tidak terawat. Ketersediaan air yang mencukupi pada rentang waktu tertentu diperlukan karena salah satu tahap hidupnya tergantung pada keberadaan air, yaitu sebagai media bergeraknya sel sperma menuju sel telur. Karena itulah, tumbuhan ini juga lebih banyak dijumpai di kawasan pegunungan yang basah dan teduh.

Metagenesis
Image result for gambar proses pengolahan tumbuhan paku
          Daur hidup tumbuhan paku mengenal pergiliran keturunan (metagenesis), yang terdiri dari dua tahap yaitu gametofit dan sporofit. Tumbuhan paku yang mudah atau yang sering kita lihat merupakan bentuk fase sporofit (sporophyte, berarti "tumbuhan dengan spora") karena menghasilkan spora. Bentuk generasi gametofit (gametophyte, berarti "tumbuhan dengan gamet") dinamakan protalus (prothallus) atau protalium (prothallium), yang berwujud tumbuhan kecil berupa lembaran berwarna hijau, mirip lumut hati, tidak berakar (tetapi memiliki akar semu (rizoid) sebagai penggantinya), tidak berbatang, tidak berdaun. Prothallium tumbuh dari spora yang jatuh di tempat yang lembab. Protalium menghasilkan anteridium (antheridium, penghasil spermatozoid atau sel kelamin jantan) dan arkegonium (archegonium, organ penghasil ovumatau sel telur).

Baik anteridium maupun arkegonium berukuran mikroskopik, tidak mudah dilihat mata tanpa bantuan alat khusus. Pembuahan sel telur mutlak memerlukan bantuan air sebagai media spermatozoid berpindah dengan berenang menuju arkegonium untuk membuahi sel telur. Ovum yang terbuahi berkembang menjadi zigot, yang pada gilirannya tumbuh menjadi sporofit baru. Daur hidup (disederhanakan) tumbuhan paku. Beberapa tumbuhan paku (seperti anggota Selaginellales dan Salviniales) memiliki spora jantan berukuran lebih kecil, disebut mikrospora, daripada spora betina, disebut megaspora atau makrospora. Gejala ini disebut heterospori (tumbuhannya disebut heterospor). Kelompok dengan ukuran spora sama besar disebut homospor. Tumbuhan berbiji (Spermatophyta) juga memiliki daur hidup seperti paku heterospor tetapi telah berevolusi lebih jauh sehingga tahap gametofitnya tidak dapat hidup mandiri dan harus disangga kehidupannya oleh sporofit. Spora yang dihasilkan langsung tumbuh menjadi serbuk sari (jantan) atau kantung embrio (betina).

Cakupan Anggota dan Klasifikasi
Secara tradisional, sebagaimana diajarkan di sekolah menengah, tumbuhan paku (Pteridophyta, arti luas) mencakup semua tumbuhan berpembuluh (Tracheophyta) berspora, atau kormofita berspora selain lumut hati (Hepatophyta), lumut tanduk (Anthocerophyta), dan tumbuhan lumut sejati (Musci). Pteridophyta ditempatkan pada takson divisio dengan lima kelas:
·         Psilotiinae (misalnya paku telanjang Psilotum)
·         Lycopodiinae (misalnya rane, kumpai, dan paku kawat)
·         Isoetinae
·         Equisetinae (rumput betung atau paku ekor kuda)
·         Filicinae / Filices (paku sejati/benar, mencakup Eusporangiatae (ordo Ophioglossales dan Marattiales) dan Leptosporangiatae).
Sampai sekarang, ilmu yang mempelajari kelompok-kelompok dari tumbuhan paku ini disebut pteridologi dan ahlinya disebut pteridolog. Perubahan mendasar dipublikasikan oleh Smith (2006), dengan mengajukan revisi terhadap tumbuhan paku masa kini (tidak mencakup tumbuhan paku fosil yang sudah punah) berdasarkan data morfologi dan didukung dengan hasil analisis molekular (sekuens DNA plastid). Berdasarkan usulan ini, Lycopodiinae dan Isoëtinae dianggap merupakan tumbuhan berpembuluh yang pertama kali terpisah dari yang lain, sehingga dikelompokkan dalam divisio tersendiri: Lycopodiophyta (atau Lycophyta). Paku-pakuan serta tumbuhan berbiji berada pada kelompok lain, disebut Euphyllophytina (atau Pterophyta). Selanjutnya semua kormofita berspora yang tersisa tergabung dalam satu kelompok besar, yang layak dikatakan sebagai anggota divisio tumbuhan paku (Pteridophyta) yang sebenarnya. Nama baru yang diusulkan untuk mencegah kerancuan cakupan Pteridophyta adalah "Monilophyta" (dari moniliform, "berbentuk kalung", mengacu pada bentuk stele seperti kalung yang dimiliki tumbuhan yang dianggap moyang semua tumbuhan paku modern) atau ""Polypodiophyta" (dari Polypodiumgenus yang menjadi genus tipe).
Revisi Smith dkk (2006) ini juga menunjukkan bahwa sejumlah paku-pakuan yang dulu dianggap sebagai paku primitif, seperti anggota Psilotales, ternyata lebih dekat berkerabat dengan Ophioglossales (yang sebelumnya merupakan anggota kelas Filicinae yang dianggap lebih "modern"), sementara paku ekor kuda (Equisetales) sama dekatnya dengan paku sejati maupun terhadap Marattiales.
Semenjak klasifikasi baru ini diterbitkan, ditambah dengan beberapa perbaikan lanjutan, kesepakatan klasifikasi tumbuhan paku sampai 2013, adalah sebagai berikut (hingga takson bangsa/ordo)

Manfaat Ekonomi
Image result for gambar trumbuhan pakuTumbuhan paku memiliki banyak manfaat bagi manusia, diantaranya sebagai manfaat ekonomis. Manfaat ekonomi dari tumbuhan paku adalah:
   1.      Sebagai Tanaman Hias
Manfaat ekonomi yang pertama ialah sebagai tanaman hias. Tumbuhan paku memiliki banyak jenis anggotanya menjadi tanaman hias, baik itu taman, pekarangan, atau ditaruh di pot sebagai tanaman beranda atau dalam rumah (indoor plant). Contoh-contohnya adalah berbagai paku pedang (Nephrolepis), berbagai paku epifit (misalnya paku tanduk rusakadakaDavalliaDrynaria, sering kali tumbuh secara spontan lalu dipelihara), suplir (Adiantum), berbagai paku pohon, dan beberapa paku air untuk penghias akuarium (mis. Ceratopteris thalictroides).
2.      Sebagai Sayuran
Manfaat sebagai sayuran merupakan manfaat paling sering diketahui atau paling sering dijumpai terutama di kehidupan kampong. Tanaman paku atau sayur paku sering dijual mentah atau bahkan sebagai menu sayur di rumah makan atau restoran. Namun, bukan seluruh bagian paku  yang digunakan sebagai sayur hanya bagian dari ental muda saja. jenis paku yang dapat digunakan sebagai sayur adalah Diplazium esculentum.
3.      Sebagai Pupuk pertanian
Dalam bidang pertanian tumbuhan paku memiliki manfaat sebagai pupuk, melalui cara bersimbiosis dengan bakteri pengikat nitrogen bebas dari udara. Sehingga mengandung nitrogen yang tinggi dan dapat digunakan oleh petani untuk menghemat dari biaya atau modal pembelian pupuk. Jenis paku yang digunakan sebagai pupuk adalah Anabaena azollae.
4.      Sebagai penimbun logam berat dan berperan penting pada fitoremediasi
Fitoremediasi terdiri dari konsentrasi polutan dalam tanah terkontaminasi mitigasi, air, atau udara, dengan tanaman mampu menurunkan atau menghilangkan logam, pestisida, pelarut, bahan peledak, minyak mentah dan turunannya, dan kontaminan lainnya dari berbagai media yang mengandung mereka. Jenis paku yang berperan dibidang ini adalah Pteris vittata dan Azzola spp.
5.      Manfaat sebagai alternatif obat
Pakis juga memiliki manfaat kesehatan lainnya adalah untuk mengobati parasit internal seperti cacing. Selain itu juga digunakan sebagai pencahar untuk menyembuhkan gangguan pencernaan dan sembelit. Studi menunjukkan bahwa pakis bertindak sebagai alat kontrasepsi dan memiliki efek antihiperglikemia. Ini berarti bahwa hal ini membantu untuk menurunkan kadar gula darah, yang berguna bagi penderita diabetes.
6.      Sebagai bahan pembuatan petasan
Manfaat ekonomi ini merupakan agak di luar dugaan, yaitu sebagai bahan dasar pembuatan petasan. Seperti yang kita ketahui, petasan memiliki nilai jual ekonomi yang cukup tenar dan laris di Indonesia,  adapun jenis tumbuhan paku yang dapat digunakan sebagai bahan pembuatan petasan adalah Lycopodium sp.
7.      Sebagai bahan tambang
Ini merupakan manfaat paling jarang didengar oleh masyarakat. Ternyata tanaman paku yang sudah tekubur lama semua itu akan berubah menjadi bahan tambang  seperti misalnya batubara, yang merupakan nilai tambang yang memiliki nilai ekonomi yang tinggi

Aspek-aspek Sosial Budaya Alifuru

Paper   Sosiologi Kehutanan                                                        Medan,       Oktober 2019 ASPEK-ASPEK SOSIOLOGI MASYA...